FISA Pic

Minggu, 04 Februari 2018

CERPEN : TUGAS MATAKULIAH Percuma karya Fitri Syahbana

PERCUMA
Karya Fitri Syahbana
Di saat ia pulang kuliah, tiba-tiba rumahnya kosong dan hanya surat dari pihak Bank yang isinya tentang penyitaan rumah yang ia tinggali sekarang. Ia binggung, lalu ia  menelpon ibunya tetapi tidak diangkat. Berkali-kali ia menelfon tetapi tidak diangkat juga. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba ada pesan masuk di handphonenya. “Nak, maafkan Ibu dan Ayah. Ayahmu gagal dalam proyek besar dan terpaksa rumah kita disita oleh bank. Sekarang Ibu dan Ayah ada di tempat yang jauh dan kami tidak ingin menyusahkanmu nak. Kamu tidak usah memikirkan masalah kami, Ibu sudah menyiapkan uang untukmu. Uangnya ada di laci lemari di kamarmu nak, walaupun uangnya tidak seberapa Ibu harap kamu bisa memanfaatkan uang itu untuk modal usaha karena kami mungkin akan sibuk untuk sementara dan tidak bisa selalu mengirim uang untukmu. Oh ya, ibu juga sudah mengontrakkan kos-kosan untukmu dan alamatnya sudah Ibu masukkan dalam amplop uang. Semangat ya sayang, maaf Ibu dan Ayah merepotkanmu. Kami menyayangimu nak, tunggu kami kembali ya.” Itu lah pesan dari ibunya Laila, ia langsung jatuh dan menangis.
Satu jam berlalu, akhirnya Laila berhenti menangis. Dengan mata sembab ia mulai bangun dan menuju lemari untuk mengemas pakaiannya ke dalam koper dan tidak lupa ia mengambil uang yang telah disiapkan Ibunya. Setelah ia selesai berkemas ia langsung pergi ke alamat kos-kosan yang tertera di dalam amplop. Di saat Laila sampai ke alamat yang dituju ia bingung karena tempat kos-kosan tersebut bercampur dengan laki-laki. Ia memberanikan diri untuk bertanya pada seorang pemuda, “Permisi, saya ingin bertanya di mana kamar kos nomor 2 ya?” pemuda itu pun menjawab, “Kamu anak baru yang bakalan ngekos disini kan? Dan juga... ah sudahlah aku antarkan kamu saja, ikuti aku” Laila hanya mengangguk dan mulai mengikuti pemuda tersebut. Setelah berjalan beberapa langkah, Laila berjalan sambil melamun dan tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara pemuda itu, “Hey, jangan melamun. Ini kamar kamu dan ini kuncinya” Laila menjawab, “Eh, iya. Maaf aku merepotkanmu, perkenalkan namaku Laila” sambil menjulurkan tangan “Kamu bisa panggil aku Edo dan kamarku di nomor 4, kalau ada apa-apa kamu bisa datangi aku. Ya udah aku balik ke kamar dulu, bye”, jawab Edo dengan senyum manisnya.
Setelah sebulan Laila tinggal di kos itu, ia sudah mulai akrab dengan beberapa para penghuni kos tetapi yang paling ia akrabi adalah Edo. Selama sebulan lamanya berhenti kuliah dan mencoba mencari pekerjaan tetapi tidak dapat juga. Di suatu saat Laila bercerita dengan Edo, “Do, aku binggung nih.” ucap Laila, “Bingung kenapa La?” jawab Edo. “Aku nggak nemuin pekerjaan juga nih” ucap Laila sedih dan Edo pun menjawab, “Sabar La, tapi kamu bisa kerja part time di cafe tempat aku kerja. Gampang aja kerjanya kok, nanti aku  bicara dengan bos ku”.
Seminggu kemudian Laila mulai bekerja di cafe. Ia merasa senang karena mendapatkan pekerjaan tersebut dan ia selalu mengambil sift pagi dan siang berbeda dengan Edo yang mengambil sift malam. Beberapa bulan sudah Laila bekerja dan setiap pergi kerja selalu saja ia membawa kalung pemberian Ibunya dulu sebelum meninggalkannya. Di suatu hari kalung itu hilang pada saat ia bekerja, seingatnya kalung itu ada di lehernya sejak pagi. Ia mencoba mengingat kembali di mana ia menyimpan atau melepas kalung tersebut dan akhirnya ia ingat, bahwa pada saat mengganti baju kerja ia melepas kalung itu. Langsung Laila pergi ke ruang ganti dan ia tidak menemukan kalung kesayangannya. Ia bingung dan memberanikan diri untuk bertanya pada manager, “Pak, boleh saya bertanya. Apa bapak melihat kalung jatuh atau tercecer di cafe ini Pak?”, “ Tadi saya menemukannya tapi ada seorang pria yang berkata itu miliknya dan saya kasihkan ke dia” jawab Pak manager, “Kalau begitu terimakasih ya Pak. Tapi Pak, kalungnya ada huruf L atau tidak” tanya Laila lagi, “Iya, seingat saya ada tadi. Sudah lebih baik lanjutkan saja kerjanya, tidak usah khawatir kalungnya sudah diambil pemiliknya” lanjut Pak manager.
Laila sudah putus asa akan kalungnya dan mulai mencoba mengikhlaskannya karena sudah diambil orang lain. Tapi ia masih bingung kenapa orang itu mengaku-ngaku bahwa kalung miliknya adalah kalung orang itu. Hari mulai sore, Laila bergegas pulang ke kos-kosan. Ia pulang jalan kaki karena cafe tempat ia bekerja tidak terlalu jauh, di perjalanan pulang tiba-tiba ia menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Laila pun menjawab telpon tersebut, “Halo?”,
“Bisa bica dengan saudari Laila”
“Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya?”
“Mohon maaf sebelumnya mbak Laila, orang tua anda mengalami kecelakaan beruntun di tepi jurang dan jasadnya belum bisa kami temukan. Yang bisa kami temukan hanya tas yang berisi dompet dan buku kecil”
“Apakah benar mbak? Nggak mungkin mbak?
“Saya tidak bohong mbak, saya dari pihak kepolisian masih mencari jasad dan bukti kenapa kecelakan itu terjadi, nanti akan saya hubungi lagi apabila ada kabar terbaru ya mbak. Saya turut berduka cita mbak.”
Setelah telpon dari pihak kepolisian itu, Laila langsung terjatuh di pinggir jalan dan menangis. Ia merasa kenapa nasib buruk selalu menghantuinya, ia rasa tidak ada berbuat jahat kepada orang lain. ia mencoba bangun dari duduknya dan berjalan perlahan menuju kos yang ia diami selama selama beberapa bulan. Sampai kos ia langsung masuk ke kamar dan menangis. Ia binggung harus bagaimana, Ibunya hanya membayarkan kos untuk 5 bulan dan ini sudah bulan ke 4. Ia harus bagai mana membayar kos sedangkan uang gajih part time di cafe pas-pasan untuk bayar kos. “Kalau aku bayar kos, aku tidak bisa makan karna gajihnya sama seperti harga kos” ucap Laila pada diri sendiri, “Apa aku harus cari kerja yang lain ya? Tapi kerja apa, sekarang cari pekerjaan itu susah” lanjutnya.
Laila mengurung diri di kamar, dan hari ini sudah hari ketiga ia mengurung diri. Edo khawatir dengan keadaan Laila yang seperti ini.
“La, keluar dong”
“Do, jangan ganggu aku. Aku hanya ingin sendirian”
“La, ini udah tiga hari. Kamu nggak ada cerita apa-apa”
“Do, mohon. Aku mau sendirian”
“Baiklah aku kerja dulu, semangat La. Tak selamanya harus bersedih, kamu harus kuat”
Laila kembali menangis, tiba-tiba ia terdiam dan menangkap apa yang Edo katakan. “Semangat La, jangan bersedih. Besok harus kerja” ucap laila menyemagati dirinya sendiri. Laila pun bangun dan mandi, setelah mandi ia merasa lunglai dan lapar. Ia memutuskan untuk makan nasi goreng di sebrang kos-kosan yang ia diami, setelah ia makan tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya dan berkata,
“Permisi, saya dari tadi melihat anda dan apakah anda mau bekerja pada kami. Saya rasa anda cocok untuk pekerjaan ini.”
“Bagaimana ya mbak, saya binggung”
“Pekerjaannya mudah dan menghasilkan uang yang banyak, juga ada bonus”
“Memangnya pekerjaan apa mbak?”
“Ini rahasia ya mbak, pekerjaan ini cuman menemani para pejabat atau orang-orang kaya yang kesepian untuk makan malam, jalan-jalan, karokean bahkan liburan. Kalau kamu berminat, ini kartu nama aku dan hubungi saja nanti”
“I-iya mbak”
Laila menerima kartu nama itu, ia bingung antara terima atau tidak dengan pekerjaan itu. Ia merasakan cekcok antara hati dan pikirannya. Dala pikirannya ia ingin melakukan pekerjaan itu tapi dalam bertolak belakang dengan hatinya yang tidak ingin melakukan pekerjaan itu. Kebimbangan itu sangat mengganggu Laila, ia digeluti kebingungan yang sangat membuatnya kacau, "Lebih baik aku pulang saja dahulu ke kos" ucap Laila sambil berjalan menuju kos yang ia tinggali.
Saat sampai kos, Laila langsung masuk kamar dan berbaring ke tempat tidurnya dan berteriak, "Akhhh, kenapa sangat membingungkan." Langsung Laila bangun dari tidurnya dan mengambil handphonenya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar