FISA Pic

Senin, 30 April 2018

Hanya tugas kuliah: Penyabab Kurangnya Karakter



Penyebab Kurangnya Karakter

A.    Pengertian Karakter
Karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.
Karakter adalah kualitas yang stabil dan khas yang dibangun di dalam kehidupan seorang individu yang menentukan responnya terlepas dari keadaan yang melingkupinya. Kualitas dari karakter yang akan menentukan respon seseorang dalam situasi apapun.
Contoh:
Orang dengan karakter kejujuran cenderung akan melaporkan suatu fakta secara apa adanya dibanding orang yang memiliki karakter tidak jujur. Orang dengan karakter waspada cenderung akan menjadi pengemudi yang lebih baik di jalan dibanding orang dengan karakter ceroboh.

Pengertian Karakter Menurut Para Ahli

  1. Maxwell
Menurut Maxwell, karakter jauh lebih baik dari sekedar perkataan. Lebih dari itu, karakter merupakan sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesuksesan.
  1. Wyne
Menurut Wyne, karakter menandai bagaimana cara atau pun teknis untuk memfoukuskan penerapan nilai kebaikan ke dalam tindakan atau pun tingkah laku.
  1. Kamisa
Menurut Kamisa, pengertian karakter adalah sifat – sifat kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain. Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian.
  1. Doni Kusuma
Menurut Doni Kusuma, karakter merupakan ciri, gaya, sifat, atau pun katakeristik diri seseorang yang berasal dari bentukan atau pun tempaan yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.
B.     Pembelajaran Karakter
Setiap guru yang mengajar haruslah sesuai dengan tujuan utuh pendidikan. Tujuan utuh pendidikan jauh lebih luas dari misi pengajaran yang dikemas dalam Kompetensi Dasar (KD). Oleh karena itu, menurut (Hasan, 2000) pemaksaan suatu pengembangan tujuan didalam kompetensi dasar tidak dapat dipertahankan lagi bila hanya mengacu pada hafalan semata.
Hasil belajar atau pengalaman dari sebuah pembelajaran dapat berdampak langsung dan tidak langsung. Menurut Joni (1996) mengatakan dampak langsung pengajaran dinamakan dampak instruksional sedangkan dampak tidak langsung dari keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan belajar yang dirancang guru disebut dampak pengiring. Dampak pengiring adalah pendidikan karakter bangsa yang harus dikembangkan, tidak dapat dicapai secara langsung, baru dapat tercapai setelah beberapa kegiatan belajar berlangsung. Dalam penilaian hasil belajar, semua guru akan dan seharusnya mengukur kemampuan siswa dalam semua ranah (Waridjan, 1991). Dengan penilaian seperti itu maka akan tergambar sosok utuh siswa sebenarnya. Artinya, dalam menentukan keberhasilan siswa harus dinilai dari berbagai ranah seperti pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (psikomotor). Seorang siswa yang menempuh ujian Matematika secara tertulis, sebenarnya siswa tersebut dinilai kemampuan penalarannya yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal Matematika. Juga dinilai kemampuan pendidikan karakter bangsanya yaitu kemampuan melakukan kejujuran dengan tidak menyontek dan bertanya kepada teman dan hal ini disikapi karena perbuatan-perbuatan tersebut tidak baik. Di samping itu, ia dinilai kemampuan gerak-geriknya, yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal ujian dengan tulisan yang teratur, rapi, dan mudah dibaca (Waridjan, 1991).
Selain penilaian dilakukan terhadap semua kemampuan pada saat ujian berlangsung, boleh jadi seorang guru memperhitungkan tindak-tanduk siswanya di luar ujian. Seorang guru mungkin saja tidak akan meluluskan seorang siswa yang mengikuti ujian mata pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya adalah kurang sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi. Oleh karena itu, akan tepat apabila pada setiap mata pelajaran dirumuskan tujuan pengajaran yang mencakupi kemampuan dalam semua ranah. Artinya, pada setiap rencana pembelajaran termuat kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor; dampak instruksional; dan dampak pengiring. Dengan demikian, seorang guru akan menilai kemampuan dalam semua ranah ujian suatu mata pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya adalah kurang sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi.

C.    Sasaran Pembelajaran Karakter
Untuk anak-anak dan remaja maupun pelajar.
D.    Penyebab dan Contohnya
1.      Sikap Otoriter Orang Tua
Sikap orang tua yang terlalu menekan dan memaksa anak untuk menuruti semua keinginan mereka tanpa memperhatikan keadaan dan kemampuan sang anak. Sikap otoriter ini biasanya didasari dengan perasaan merasa serba tahu yang dimiliki oleh orang tua, termasuk serba tahu tentang apa yang terbaik untuk anaknya. Bahkan mereka juga berpikir bahwa cara tegas dan keras ini dapat berhasil dalam membimbing dan mendidik anak, di mana erat kaitan dengan perilaku keseharian. Sedemikian sehingga anak yang terus-menerus merasa ditekan, dipaksa, dan akhirnya tidak mampu lagi menurutinya, maka timbullah sikap melawan.
2.      Keinginan Anak yang Tidak Terpenuhi
Seorang anak pastinya memiliki keinginan tersendiri, di mana tidak semua dapat dipenuhi oleh orang tuanya. Keinginan yang tidak dapat dipenuhi oleh orang tuanya itulah yang kemudian menjadi penyebab seorang anak melawan kepada orang tuanya.
3.      Pengaruh Lingkungan
Hal ini biasanya berkaitan dengan tempat-tempat pergaulan anak setiap harinya, entah bersama teman-teman maupun orang lain. Selain itu, lingkungan memang juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama terkait dengan tingkah lakunya. .
4.      Anak yang Terlalu Dimanjakan
Kebiasaan orang tua yang sealu memanjakan setiap harinya. Sehingga apabila sewaktu-waktu dia tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, maka dia akan melakukan perlawanan. Perlawanan ini merupakan sebuah bentuk protes sang anak kepada orang tuanya yang tidak mampu memenuhi keinginannya sebagaimana biasanya.
5.      Mencontoh Perbuatan Orang Tua
Seperti halnya melihat orang tuanya ketika sedang bertengkar atau bersikap keras kepala. Lebih parah lagi apabila sang anak menjumpai orang tua mereka yang tidak patuh kepada kakek dan neneknya, di mana kakek dan nenek merupakan orang tua dari orang tuanya sendiri. Sehingga sewaktu-waktu hal ini dapat ditiru dan anak pun terdorong untuk melawan orang tuanya sendiri.
6.      Anak Dibiarkan Tumbuh Tanpa Bimbingan
Hal ini biasanya terjadi dikala orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang memberikan perhatian kepada anak mereka sendiri. Karena kurangnya perhatian, bimbingan, dan didikan inilah yang kemudian menjadikan anak kurang mendapat pelajaran sopan santun dan sikap baik lainnya, termasuk pelajaran mengenai ketidakbolehan melawan orang tua. Sedemikian sehingga mereka cenderung tumbuh menjadi pribadi egois dan suka melawan orang tua dan dapat juga terkena dampak broken home.
7.      Waktu Berbicara yang Tidak Tepat
Contoh konkritnya ketika orang tua tiba-tiba menyuruh anak melakukan sesuatu, padahal dia sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Sehingga karena merasa terganggu, maka ia pun melakukan perlawanan kepada orang tuanya.

8.      Hubungan Antara Anak dan Orang Tua yang Tidak Harmonis
Hubungan tidak harmonis ini biasanya menjadikan ikatan kasih sayang dan pengertian antara mereka (anak dan orang tuanya) berkurang. Sedemikian sehingga kondisi ini sangat rentan menimbulkan masalah diantara anak dan orang tua.

E.     Efek
Cenderungnya ada sifat psikopat dalam diri anak, suka membully, meremehkan orang lain, urangnya rasa menghormati terhadap hal-hal kecil, tidak bersyukur, tidak sabar, dan memiliki ego yang besar.

F.     Rujukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar