Penyebab
Kurangnya Karakter
A. Pengertian Karakter
Karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi
pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya.
Karakter adalah kualitas yang stabil dan
khas yang dibangun di dalam kehidupan seorang individu yang menentukan
responnya terlepas dari keadaan yang melingkupinya. Kualitas dari karakter yang
akan menentukan respon seseorang dalam situasi apapun.
Contoh:
Orang dengan karakter kejujuran cenderung
akan melaporkan suatu fakta secara apa adanya dibanding orang yang memiliki
karakter tidak jujur. Orang dengan karakter waspada cenderung akan menjadi
pengemudi yang lebih baik di jalan dibanding orang dengan karakter ceroboh.
Pengertian Karakter Menurut Para Ahli
- Maxwell
Menurut
Maxwell, karakter jauh lebih baik dari sekedar perkataan. Lebih dari itu,
karakter merupakan sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesuksesan.
- Wyne
Menurut
Wyne, karakter menandai bagaimana cara atau pun teknis untuk memfoukuskan
penerapan nilai kebaikan ke dalam tindakan atau pun tingkah laku.
- Kamisa
Menurut
Kamisa, pengertian karakter adalah sifat – sifat kejiwaan,
akhlak, dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari
orang lain. Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian.
- Doni Kusuma
Menurut
Doni Kusuma, karakter merupakan ciri, gaya, sifat, atau pun katakeristik diri
seseorang yang berasal dari bentukan atau pun tempaan yang didapatkan dari
lingkungan sekitarnya.
B. Pembelajaran Karakter
Setiap guru yang
mengajar haruslah sesuai dengan tujuan utuh pendidikan. Tujuan utuh pendidikan
jauh lebih luas dari misi pengajaran yang dikemas dalam Kompetensi Dasar (KD).
Oleh karena itu, menurut (Hasan, 2000) pemaksaan suatu pengembangan tujuan
didalam kompetensi dasar tidak dapat dipertahankan lagi bila hanya mengacu pada
hafalan semata.
Hasil belajar atau
pengalaman dari sebuah pembelajaran dapat berdampak langsung dan tidak
langsung. Menurut Joni (1996) mengatakan dampak langsung pengajaran dinamakan
dampak instruksional sedangkan dampak tidak langsung dari keterlibatan siswa
dalam berbagai kegiatan belajar yang dirancang guru disebut dampak pengiring.
Dampak pengiring adalah pendidikan karakter bangsa yang harus dikembangkan,
tidak dapat dicapai secara langsung, baru dapat tercapai setelah beberapa
kegiatan belajar berlangsung. Dalam penilaian hasil belajar, semua guru akan
dan seharusnya mengukur kemampuan siswa dalam semua ranah (Waridjan, 1991).
Dengan penilaian seperti itu maka akan tergambar sosok utuh siswa sebenarnya.
Artinya, dalam menentukan keberhasilan siswa harus dinilai dari berbagai ranah
seperti pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (psikomotor).
Seorang siswa yang menempuh ujian Matematika secara tertulis, sebenarnya siswa
tersebut dinilai kemampuan penalarannya yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal
Matematika. Juga dinilai kemampuan pendidikan karakter bangsanya yaitu
kemampuan melakukan kejujuran dengan tidak menyontek dan bertanya kepada teman
dan hal ini disikapi karena perbuatan-perbuatan tersebut tidak baik. Di samping
itu, ia dinilai kemampuan gerak-geriknya, yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal
ujian dengan tulisan yang teratur, rapi, dan mudah dibaca (Waridjan, 1991).
Selain penilaian
dilakukan terhadap semua kemampuan pada saat ujian berlangsung, boleh jadi
seorang guru memperhitungkan tindak-tanduk siswanya di luar ujian. Seorang guru
mungkin saja tidak akan meluluskan seorang siswa yang mengikuti ujian mata
pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya adalah kurang
sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian
siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan
tulisan yang jelas dan rapi. Oleh karena itu, akan tepat apabila pada setiap
mata pelajaran dirumuskan tujuan pengajaran yang mencakupi kemampuan dalam
semua ranah. Artinya, pada setiap rencana pembelajaran termuat kemampuan
kognitif, afektif, dan psikomotor; dampak instruksional; dan dampak pengiring.
Dengan demikian, seorang guru akan menilai kemampuan dalam semua ranah ujian
suatu mata pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya
adalah kurang sopan, selalu usil, dan suka berbuat keonaran meskipun dalam
mengerjakan ujian siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan
jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi.
C. Sasaran Pembelajaran Karakter
Untuk
anak-anak dan remaja maupun pelajar.
D. Penyebab dan Contohnya
1.
Sikap
Otoriter Orang Tua
Sikap orang tua yang terlalu menekan
dan memaksa anak untuk menuruti semua keinginan mereka tanpa memperhatikan
keadaan dan kemampuan sang anak. Sikap otoriter ini biasanya didasari dengan
perasaan merasa serba tahu yang dimiliki oleh orang tua, termasuk serba tahu
tentang apa yang terbaik untuk anaknya. Bahkan mereka juga berpikir bahwa cara
tegas dan keras ini dapat berhasil dalam membimbing dan mendidik anak, di mana
erat kaitan dengan perilaku keseharian. Sedemikian sehingga anak yang
terus-menerus merasa ditekan, dipaksa, dan akhirnya tidak mampu lagi
menurutinya, maka timbullah sikap melawan.
2.
Keinginan
Anak yang Tidak Terpenuhi
Seorang anak pastinya memiliki keinginan
tersendiri, di mana tidak semua dapat dipenuhi oleh orang tuanya. Keinginan
yang tidak dapat dipenuhi oleh orang tuanya itulah yang kemudian menjadi
penyebab seorang anak melawan kepada orang tuanya.
3.
Pengaruh
Lingkungan
Hal ini biasanya berkaitan dengan
tempat-tempat pergaulan anak setiap harinya, entah bersama teman-teman maupun
orang lain. Selain itu, lingkungan memang juga sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama terkait dengan tingkah lakunya. .
4.
Anak
yang Terlalu Dimanjakan
Kebiasaan orang tua yang sealu
memanjakan setiap harinya. Sehingga apabila sewaktu-waktu dia tidak mendapatkan
sesuatu yang diinginkannya, maka dia akan melakukan perlawanan. Perlawanan ini
merupakan sebuah bentuk protes sang anak kepada orang tuanya yang tidak mampu
memenuhi keinginannya sebagaimana biasanya.
5.
Mencontoh
Perbuatan Orang Tua
Seperti halnya melihat orang tuanya
ketika sedang bertengkar atau bersikap keras kepala. Lebih parah lagi apabila
sang anak menjumpai orang tua mereka yang tidak patuh kepada kakek dan
neneknya, di mana kakek dan nenek merupakan orang tua dari orang tuanya
sendiri. Sehingga
sewaktu-waktu hal ini dapat ditiru dan anak pun terdorong untuk melawan orang
tuanya sendiri.
6. Anak
Dibiarkan Tumbuh Tanpa Bimbingan
Hal
ini biasanya terjadi dikala orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya
sehingga kurang memberikan perhatian kepada anak mereka sendiri. Karena
kurangnya perhatian, bimbingan, dan didikan inilah yang kemudian menjadikan
anak kurang mendapat pelajaran sopan santun dan sikap baik lainnya, termasuk
pelajaran mengenai ketidakbolehan melawan orang tua. Sedemikian sehingga mereka
cenderung tumbuh menjadi pribadi egois dan suka melawan orang tua dan dapat
juga terkena dampak broken home.
7. Waktu
Berbicara yang Tidak Tepat
Contoh
konkritnya ketika orang tua tiba-tiba menyuruh anak melakukan sesuatu, padahal
dia sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Sehingga karena merasa terganggu,
maka ia pun melakukan perlawanan kepada orang tuanya.
8. Hubungan
Antara Anak dan Orang Tua yang Tidak Harmonis
Hubungan
tidak harmonis ini biasanya menjadikan ikatan kasih sayang dan pengertian
antara mereka (anak dan orang tuanya) berkurang. Sedemikian sehingga kondisi
ini sangat rentan menimbulkan masalah diantara anak dan orang tua.
E. Efek
Cenderungnya
ada sifat psikopat dalam diri anak, suka membully, meremehkan orang lain, urangnya
rasa menghormati terhadap hal-hal kecil, tidak bersyukur, tidak sabar, dan memiliki
ego yang besar.
F. Rujukan
https://id.wikipedia.org/wiki/Karakter
(20 Maret 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar